June 15, 2026

apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa asyura

Apakah Boleh Menggabungkan Puasa Qadha dengan Puasa Asyura? Ini Penjelasan Ulama 

Menjelang datangnya bulan Muharram, tidak sedikit Muslim yang memiliki pertanyaan serupa. “Saya masih punya utang puasa Ramadhan. Ketika puasa Asyura datang, apakah saya harus qadha dulu atau boleh digabung?” Pertanyaan ini sangat wajar. Apalagi banyak anak muda yang baru sempat mengganti puasa Ramadhan ketika memasuki bulan-bulan setelah Idul Fitri. Akibatnya, saat tanggal Asyura tiba, muncul kebingungan mengenai apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura dalam satu hari. Kabar baiknya, persoalan ini sudah banyak dibahas oleh para ulama fiqih dan terdapat penjelasan yang cukup jelas mengenai hukumnya. Hukum Menggabungkan Puasa Qadha dengan Puasa Asyura Mayoritas ulama menjelaskan bahwa menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura diperbolehkan. Artinya, seseorang dapat berpuasa pada tanggal Asyura dengan niat utama mengganti puasa Ramadhan yang masih menjadi tanggungan. Karena puasa tersebut bertepatan dengan hari Asyura, ia juga berpeluang mendapatkan keutamaan puasa Asyura. Dalam mazhab Syafi’i, konsep ini dikenal sebagai tasyrik an-niyyah, yaitu bertepatan antara ibadah wajib dan ibadah sunnah sehingga seseorang dapat memperoleh pahala keduanya. Ketika membahas apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, mayoritas ulama kontemporer juga cenderung membolehkan selama niat utamanya adalah menunaikan kewajiban qadha Ramadhan. Dalil Tentang Kewajiban Qadha Puasa Allah SWT berfirman: “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184) Ayat ini menunjukkan bahwa puasa qadha memiliki kedudukan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan. Karena itu sebagian ulama bahkan menilai bahwa menggabungkan puasa qadha dengan puasa sunnah merupakan pilihan yang baik karena kewajiban tetap terlaksana. Ketika seseorang bertanya apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, maka kewajiban qadha tetap menjadi prioritas utama yang harus dipenuhi. Bagaimana Pendapat Ulama Syafi’iyyah Tentang Puasa Qadha dan Puasa Asyura Sekaligus? Ketika membahas apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, ternyata para ulama Syafi’iyyah memiliki dua pandangan yang cukup dikenal. Hal ini juga dijelaskan oleh Ustadz M. Mubasysyarum Bih dari Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an Cirebon dalam kajian yang ditayangkan di Youtube oleh channel NU Online. Pendapat Pertama: Tidak Diperbolehkan Sebagian ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa puasa qadha Ramadhan dan puasa Asyura tidak bisa digabung dalam satu niat. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Al-Asnawi. Menurut pandangan ini, puasa qadha Ramadhan dan puasa Asyura merupakan dua ibadah yang berdiri sendiri (maqshudah li dzatiha), sehingga masing-masing memiliki tujuan tersendiri yang tidak bisa disatukan. Analogi yang sering digunakan adalah shalat wajib dengan shalat sunnah qabliyah. Keduanya merupakan ibadah yang berbeda dan masing-masing memiliki tujuan khusus, sehingga tidak dapat dilebur menjadi satu pelaksanaan. Berdasarkan pendapat ini, seseorang yang ingin memperoleh pahala qadha Ramadhan dan pahala puasa Asyura secara sempurna dianjurkan melaksanakan keduanya secara terpisah. Pendapat Kedua: Diperbolehkan dan Menjadi Pendapat yang Lebih Kuat Pendapat kedua merupakan pendapat yang lebih umum digunakan dan dianggap lebih kuat dalam madzhab Syafi’i. Menurut pendapat ini, menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura hukumnya diperbolehkan. Para ulama yang membolehkan melihat bahwa puasa Asyura memiliki karakter yang mirip dengan shalat Tahiyyatul Masjid. Sebagaimana seseorang yang masuk masjid lalu melaksanakan shalat qabliyah Subuh sekaligus mendapatkan pahala Tahiyyatul Masjid, maka seseorang yang berpuasa qadha tepat pada tanggal 10 Muharram juga dapat memperoleh pahala puasa Asyura. Artinya, kewajiban qadha Ramadhan tetap terlaksana dan pada saat yang sama ia juga mendapatkan keutamaan karena puasanya bertepatan dengan hari Asyura. Dalam praktiknya, seseorang cukup berniat puasa qadha Ramadhan. Tidak harus membuat dua puasa yang berbeda dalam satu hari. Qadha Ramadhannya sah dan ia diharapkan tetap memperoleh pahala sunnah Asyura. Kesimpulan yang Dapat Diambil Dari dua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa persoalan ini memang termasuk wilayah ijtihadiyyah yang memiliki dasar argumentasi masing-masing. Pendapat pertama memilih untuk memisahkan antara puasa qadha dan puasa Asyura. Sedangkan pendapat kedua membolehkan penggabungan keduanya dalam satu hari dan menjadi pendapat yang lebih banyak diikuti dalam madzhab Syafi’i. Karena kedua pendapat memiliki landasan ilmiah yang kuat, maka sikap terbaik adalah saling menghormati pilihan yang diambil oleh kaum Muslimin. Bagi yang memilih memisahkan qadha dan Asyura, hal itu diperbolehkan. Bagi yang memilih menggabungkannya karena mengikuti pendapat yang membolehkan, hal itu juga diperbolehkan menurut banyak ulama Syafi’iyyah. Bagaimana Cara Menjalankan Puasa Qadha dan Puasa Asyura Secara Bersamaan? Ini bagian yang paling sering dicari setelah mengetahui hukumnya. Jika ingin menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, langkahnya cukup sederhana. Niatkan puasa sebagai qadha Ramadhan. Karena qadha merupakan ibadah wajib, maka niat wajib lebih diutamakan dibandingkan niat sunnah. Dengan kata lain, seseorang tidak perlu membuat dua puasa yang berbeda dalam satu hari. Cukup menjalankan satu puasa qadha yang kebetulan bertepatan dengan hari Asyura. Inilah cara yang paling sering dijelaskan ketika membahas cara menjalankan puasa qadha dan puasa Asyura secara bersamaan. Bagaimana Dengan Niatnya? Pertanyaan berikutnya adalah mengenai niat. Apakah harus menyebut dua niat sekaligus? Mayoritas ulama menjelaskan bahwa niat qadha Ramadhan sudah mencukupi. Contoh niatnya adalah niat qadha puasa Ramadhan sebagaimana biasa dilakukan. Karena yang menjadi tujuan utama adalah menggugurkan kewajiban puasa yang masih tertinggal. Baca Juga : Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a: Amalan Istimewa di Bulan Muharram yang Jangan Dilewatkan Sedangkan pahala Asyura diharapkan datang karena puasanya bertepatan dengan hari Asyura. Oleh sebab itu, ketika membahas apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, fokus utama niat tetap diarahkan kepada qadha Ramadhan. Apakah Hukum Ini Berlaku Untuk Puasa Sunnah Lainnya? Menariknya, pembahasan hukum menggabungkan puasa qadha dan puasa sunnah lainnya tidak hanya terjadi pada puasa Asyura. Para ulama juga membahas kasus serupa pada: Puasa Senin Kamis Puasa Arafah Puasa Ayyamul Bidh Puasa enam hari Syawal Secara umum, banyak ulama membolehkan penggabungan tersebut selama niat utamanya adalah puasa wajib. Karena itu prinsip yang digunakan pada puasa Asyura sering kali juga diterapkan pada puasa sunnah lainnya. Mana yang Lebih Utama, Digabung atau Dipisah? Jika ditanya mana yang lebih utama, sebagian ulama menjelaskan bahwa memisahkan antara qadha dan puasa sunnah dapat memberikan pahala yang lebih sempurna. Namun kondisi setiap orang berbeda. Ada yang masih memiliki banyak utang puasa Ramadhan. Ada juga yang khawatir tidak sempat mengqadha sebelum Ramadhan berikutnya datang. Dalam kondisi seperti ini, menggabungkan qadha dengan Asyura sering menjadi solusi yang sangat membantu. Karena itu jangan sampai seseorang meninggalkan qadha hanya karena terlalu lama menunggu waktu yang

Apakah Boleh Menggabungkan Puasa Qadha dengan Puasa Asyura? Ini Penjelasan Ulama  Read More »

mengapa hati tidak tenang menurut islam

Mengapa Hati Tidak Tenang Menurut Islam? Ini 1 Cara Mengatasi Penyebabnya

Mengapa Hati Tidak Tenang Menurut Islam? Pernahkah Anda merasa gelisah tanpa alasan yang jelas? Semua terlihat baik-baik saja. Pekerjaan berjalan, keluarga sehat, kebutuhan terpenuhi. Namun entah mengapa hati tetap terasa sempit, cemas, dan seperti ada sesuatu yang hilang. Sebagian orang menggambarkannya sebagai perasaan kosong. Sebagian lainnya menyebutnya seperti ada “lubang di hati” yang tidak bisa diisi oleh apa pun. Ketika kondisi ini berlangsung lama, banyak orang mulai bertanya, mengapa hati terasa tidak tenang? Pertanyaan ini sebenarnya sudah dijawab oleh Islam sejak berabad-abad lalu. Bahkan Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketenangan hati bukan hanya soal kondisi fisik atau keadaan ekonomi, tetapi berkaitan erat dengan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Baca Juga : WAJIB TAHU! Ayat Tentang Sedekah Jariyah yang Pahalanya Terus Mengalir Apa Itu Was-Was dalam Islam? Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah was-was. Secara bahasa, was-was berasal dari bahasa Arab yang berarti bisikan-bisikan halus. Di dalam Al-Qur’an, kata was-was digunakan untuk menggambarkan bisikan setan yang masuk ke dalam hati manusia dengan tujuan menjauhkan manusia dari jalan Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nas tentang setan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Karena itu, ketika membahas mengapa hati tidak tenang menurut Islam, salah satu penyebab yang perlu diperhatikan adalah adanya bisikan-bisikan negatif yang terus menerus mempengaruhi pikiran dan hati seseorang. Bisikan tersebut bisa berupa: Ketakutan berlebihan terhadap masa depan. Kekhawatiran tentang rezeki. Perasaan tidak cukup. Merasa tidak berharga. Merasa hidup selalu kurang. Jika terus dibiarkan, bisikan ini dapat berkembang menjadi kecemasan yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Ciri-Ciri Hati yang Sedang Diliputi Kecemasan Menurut penjelasan medis, kondisi ini sering disebut anxiety atau gangguan kecemasan. Beberapa tanda yang umum muncul antara lain: Gugup dan gelisah. Jantung berdebar lebih cepat. Napas terasa pendek. Sulit tidur. Tubuh mudah lelah. Sulit fokus. Banyak berkeringat. Merasa akan ditimpa sesuatu yang buruk. Gejala-gejala tersebut dapat dialami siapa saja. Namun ketika mencari jawaban atas pertanyaan mengapa hati terasa tidak tenang, kita tidak hanya melihat gejalanya, tetapi juga akar penyebabnya. Penyebab Was-Was yang Sering Tidak Disadari   Banyak orang sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan kecemasan. Ada yang berlibur. Ada yang mencari hiburan. Ada yang membeli berbagai hal yang disukai. Tetapi ketenangan yang diperoleh hanya bertahan sebentar. Mengapa? Karena penyebab utama kegelisahan sering kali bukan berasal dari luar, tetapi dari dalam hati. Menurut para ulama, salah satu penyebab terbesar mengapa hati tidak tenang menurut islam adalah karena hati mulai jauh dari Allah SWT. Ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan dunia, tetapi jarang mengingat Allah, maka hati kehilangan sumber ketenangannya. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Ayat ini menjadi jawaban paling kuat atas pertanyaan mengapa hati tidak tenang menurut Islam. Karena hati memang diciptakan untuk mengenal dan mengingat Allah. Cara Menghilangkan Was-Was dan Kecemasan dalam Hati Setelah memahami penyebabnya, langkah berikutnya adalah mencari solusi. 1. Perbaiki Hubungan dengan Allah Saat hati mulai gelisah, jangan hanya mencari solusi di luar diri. Cobalah kembali memperbaiki hubungan dengan Allah melalui shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Banyak orang menemukan ketenangan setelah rutin menjaga shalat tepat waktu. 2. Perbanyak Istighfar Istighfar memiliki pengaruh besar dalam membersihkan hati. Selain menghapus dosa, istighfar membantu hati menjadi lebih ringan dan lapang. 3. Perbanyak Berkumpul di Lingkungan yang Baik Lingkungan sangat mempengaruhi kondisi hati. Berada di sekitar masjid, majelis ilmu, dan orang-orang saleh sering kali membantu seseorang keluar dari rasa gelisah yang berkepanjangan. Tidak sedikit masyarakat yang merasakan ketenangan ketika terlibat dalam aktivitas sosial dan keagamaan di lingkungan masjid. Salah satunya melalui program-program yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire. Kunjungi Instagram Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire disini : @baitulmaalmuslimbillionaire Selain menjadi sarana berbagi kepada sesama, keterlibatan dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan kemasjidan sering kali membantu seseorang merasakan hidup yang lebih bermakna dan hati yang lebih tenang. Amalan yang Pernah Dianjurkan Syeikh Ali Jaber untuk Mengatasi Was-Was Almarhum Syeikh Ali Jaber pernah menyampaikan salah satu amalan yang dapat dilakukan ketika hati diliputi kecemasan dan was-was. Caranya adalah dengan menyiapkan air minum, kemudian membacakan: Surah Al-Fatihah 7 kali Lima ayat pertama Surah Al-Baqarah Ayat Kursi 7 kali Tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah Surah Al-Ikhlas 3 kali Surah Al-Falaq 3 kali Surah An-Nas 3 kali Setelah itu air diminum sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT. Tentu yang memberikan kesembuhan bukan air tersebut, melainkan Allah yang Maha Menyembuhkan. Amalan ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual ketika seseorang sedang berusaha mencari ketenangan hati. Sedekah Juga Bisa Menenangkan Hati Salah satu amalan yang sering direkomendasikan para ulama ketika hati sedang sempit adalah sedekah. Mengapa? Karena sedekah membantu mengurangi keterikatan hati terhadap dunia. Saat seseorang membantu orang lain, muncul rasa syukur dan kebahagiaan yang sering kali tidak bisa dibeli dengan harta. Melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire, masyarakat dapat menyalurkan sedekah untuk berbagai program sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pengembangan masjid. Selain membantu sesama, sedekah yang digunakan untuk mendukung kegiatan masjid dan program umat juga berpotensi menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Banyak orang justru menemukan ketenangan hati ketika mereka mulai lebih banyak memberi daripada menerima. Jika selama ini Anda bertanya mengapa hati tidak tenang menurut Islam, maka jawabannya sering kali berkaitan dengan kondisi hati yang mulai jauh dari Allah SWT. Was-was, kecemasan, dan kegelisahan bukan hanya persoalan pikiran, tetapi juga persoalan ruhani yang membutuhkan pendekatan spiritual. Karena itu, selain menjaga kesehatan fisik dan mental, seorang Muslim juga perlu memperkuat hubungan dengan Allah melalui dzikir, shalat, istighfar, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak amal saleh. Salah satu bentuk amal yang dapat membantu menenangkan hati adalah sedekah dan kontribusi untuk kemakmuran masjid melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire. Dengan mendukung berbagai program sosial, pendidikan, dan kegiatan umat, seseorang tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga menanam investasi akhirat berupa pahala jariyah yang terus mengalir. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang tenang, lapang, dan selalu terhubung dengan-Nya dalam setiap keadaan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. Kontak Media: Instagram : @masjidmuslimbillionaire Facebook : Masjid Muslim Billionaire Youtube : Masjid Muslim Billionaire Whatsapp : +628528542520

Mengapa Hati Tidak Tenang Menurut Islam? Ini 1 Cara Mengatasi Penyebabnya Read More »